Beda Jembungan, Lain Pula Nasib Petani Sembungan

- Sabtu, 5 Juni 2021 | 18:25 WIB
Petani memotong padi di sawahnya daerah Jembungan, Banyudono, Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo) (Joko Murdowo)
Petani memotong padi di sawahnya daerah Jembungan, Banyudono, Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo) (Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com – Hanya beda huruf depan, Desa Jembungan (di Kecamatan Banyudono) dan Desa Sembungan (Kecamatan Nogosari).

Namun nasib petani pada dua desa yang berada di wilayah Kabupaten Boyolali itu berbalik 180 derajat.

Ya, para petani di Desa Jembungan terpuruk karena hasil panen merosot. Sebagian besar dari mereka, merugi. Sebab hasil panen tidak bisa menutup biaya tanam serta pembelian pupuk dan pestisida.

“Berat, panen merugi,” ujar Tatik (54) salah satu petani Jembungan.

Baca Juga: Hari Jadi Boyolali, Upacara Dilanjutkan Tabur Bunga

Seperti biasa, dia menjual hasil panen dengan sistem tebasan. Yaitu menjual hasil panen padi langsung di sawah.

Namun, panen tidak begitu bagus karena hanya laku Rp 2,1 juta.

Padahal, biaya tanam serta pembelian pupuk dan obat- obatan menghabiskan biaya hingga Rp 2 juta.

Hasil panen masih dibagikan kepada penggarap sekitar 25 persen.

“Jadi, saya hanya menerima uang Rp 1,5 juta.”

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Terkini

HUT Ke14, The Sunan Hotel Solo Gelar Berbagai Acara

Kamis, 18 November 2021 | 11:42 WIB

Meski Pandemi Covid, Bank Boyolali Makin Melejit

Rabu, 10 November 2021 | 14:36 WIB

Penerima Insentif Pajak Diperluas

Jumat, 5 November 2021 | 04:44 WIB

Fivecord Syariah Hotel Bidik Pengunjung RS Moewardi

Senin, 1 November 2021 | 04:53 WIB

2.510 Orang Mendaftar Aku Saudagar Muda BNI

Kamis, 28 Oktober 2021 | 17:52 WIB
X