Kreatif, Tempat Buang Sampah Disulap Jadi Taman Asri di Boyolali

- Selasa, 5 Oktober 2021 | 16:35 WIB
JUJUGAN: Meski belum jadi, hasil kreatif Taman Mekarsari sudah menjadi jujugan warga untuk bersantai.  (SMSolo/Joko Murdowo)
JUJUGAN: Meski belum jadi, hasil kreatif Taman Mekarsari sudah menjadi jujugan warga untuk bersantai. (SMSolo/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com - Langkah kreatif dan positif dilakukan warga Dukuh Mekarsari, Desa Kaligentong, Kecamatan Gladagsari, Boyolali.

Melalui swadaya, mereka kreatif menyulap tempat pembuangan sampah di bantaran Kali Salak, Dukuh Mekarsari, Kaligentong menjadi taman yang asri.

Ya, bertahun-tahun sepanjang jembatan Kali Salak yang dipenuhi semak belukar menjadi jujugan warga untuk buang sampah.

Baca Juga: Waterboom Dicoret, Sukoharjo Akan Bangun Taman Budaya Sukoharjo di Gayam

Ironisnya, pelaku pembuangan sampah mayoritas justru warga luar Desa Kaligentong.

Tak heran, bau menyengat selalu dirasakan warga.

Belum lagi jalan sempit tanpa penerangan membuat warga was- was saat melintas malam hari.

Kondisi ini ditambah mitos adanya lelembut atau makhluk halus disana.

Baca Juga: Sepekan Beroperasi, Pengunjung Taman Balekambang Masih Dibatasi

Namun, kini pemandangan di kawasan itu sudah berubah total. Ya, di lahan kas desa seluas 3.500 meterpersegi tersebut telah disulap menjadi taman yang indah.

Taman Mekarsari namanya. Taman dilengkapi gazebo, mini zoo, kolam ikan dan spot swafoto.

Taman kini terus dipercantik. Bahkan, juga dilengkapi dengan lapak penjual makanan yang tertata rapi.

Baca Juga: Pengunjung Taman Balekambang Solo Harus Sudah Divaksin

Meski belum selesai, taman sudah menjadi destinasi wisata warga Kaligentong dan warga sekitarnya.

Menurut Ketua RT 01 RW 02, Dukuh Mekarsari, Kaligentong, Adi Wisnu, pembuatan Taman Mekarsari bermula dari obrolan santai warga setempat.

Di mana warga mengeluhkan dampak pembuangan sampah yang mengotori sungai dan menimbulkan bau tak sedap.

Baca Juga: KKN 210 UNS Optimalikan Ruang Publik Edukatif di Taman Wijaya Kusuma

“Warga pun enggan melintas dan memilih jalan lain,” katanya, Selasa (5/10/2021).

Hingga kemudian muncul ide untuk membersihkan tumpukan sampah dibantaran sungai Salak tersebut.

Kebetulan, saat itu bersamaan munculnya pandemi Covid-19 yang mengharuskan pekerja untuk work from home (WFH).

“Warga lantas gotong royong membersihkan tumpukan sampah dua kali dalam seminggu. Berturut-turut hingga sebulan lamanya.”

Baca Juga: FKIP UNS Monitoring Satwa Prioritas Rekrekan di Taman Nasional Gunung Pr

Setelah lahan bersih, muncul ide lanjutan untuk membuat taman di sana.

“Semua dilakukan mandiri dengan iuran sesuai kemampuan, yang penting guyup rukun. Kalau dihitung sudah habis Rp 160 jutaan ditambah bantuan Rp 15 juta.”

Saat ini, pengunjung tidak ditarik retribusi. Mereka hanya dikenakan biaya parkir kendaraan dan sewa gazebo besar.

Baca Juga: Taman Ndayu Serahkan Bantuan Mobil Operasional Relawan BPBD Sragen

Pemasukan dari parkir tersebut akan dimanfaatkan untuk pengelolaan taman.

“Kami juga bersinergi dengan kelompok tani (Poktan) untuk memaksimalkan potensi Taman Mekarsari.”

Kades Kaligentong, Slamet Sumardi menambahkan, lahan kas desa seluas 3.500 meter persegi ini bebas dimanfaatkan untuk destinasi wisata yang ramah anak.

Sedangkan sewa lahan berlangsung selama 3 tahun dengan biaya sewa Rp 1,8 juta/tahun.

“Kita coba tiga tahun dan lihat perkembangannya.”*

Halaman:
1
2
3
4

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pembangunan Agro Science Techno Park Jimbung Dimulai

Jumat, 29 Oktober 2021 | 08:16 WIB

Desa Conto Masuk Nominasi Desa Wisata Tingkat Jateng

Kamis, 21 Oktober 2021 | 05:25 WIB

Asyik, Kebun Raya Indrokilo Boyolali Dibuka Kembali

Senin, 18 Oktober 2021 | 15:55 WIB
X