Upacara Mecaru di Banyudono, Boyolali. Usai Dikirab, Ogoh - ogoh Dibakar

- Rabu, 2 Maret 2022 | 19:36 WIB
Ogoh-ogoh Bhuta Kala sebagai simbol energi jahat dimusnahkan dengan cara dibakar pada Upacara Mecaru di Banyudono, Boyolali  (SMSolo/Joko Murdowo)
Ogoh-ogoh Bhuta Kala sebagai simbol energi jahat dimusnahkan dengan cara dibakar pada Upacara Mecaru di Banyudono, Boyolali (SMSolo/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com - Upacara Mecaru digelar umat Hindu wilayah Kecamatan Banyudono, Boyolali pada Rabu (2/3) petang.

Upacara rangkaian Hari Raya Nyepi ini dipusatkan di Pura Bhuana Suci Saraswati, Desa Ngaru-Aru. Upacara Mecaru ini diikuti ratusan umat Hindu setempat.

Sebelumnya, umat Hindu melakukan sembahyang di pura tersebut. Setelah itu, Ogoh-ogoh berbentuk raksasa diarak keliling desa. Ogoh-ogoh tersebut diangkat oleh 20 orang.

Baca Juga: Mulai 8 Maret 2022, Kendaraan Berat Dilarang Melintas Underpass Makamhaji

Adapun kirab diawali dengan 12 umat yang membawa obor berjalan beriringan. Puncaknya, ogoh-ogoh setinggi 4,5 meter dibakar tepat di depan pura.

Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Ngaru-Aru, Banyudono, Heru Kuncoro, upacara mecaru digelar tiap tahun. Namun sempat terhenti saat pandemi Covid-19 2020 lalu.

"Upacara ini untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam. Upacara ini diikuti sekitar 115 umat Hindu di Desa Ngaru-Aru," katanya.

Baca Juga: Selebrasi Cetak Gol, Kapolresta Surakarta Salto pada Pelepasan Danrem 074 Warastratama

Dijelaskan, Upacara Mecaru ini juga dikenal dengan Butha Yadya. Sebagai upaya menyinergikan alam dan manusia. Ogoh-ogoh Bhuta Kala ini sebagai simbol energi jahat yang harus dilebur atau dimusnahkan dengan cara dibakar.

"Ogoh-ogoh dibuat mandiri oleh umat kami dengan biaya sekitar Rp 6 juta."

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X