Markis Kido Meninggal-Eriksen Kolaps karena Serangan Jantung, Ini Pesan Dokter Spesialis Jantung RS UNS

- Kamis, 17 Juni 2021 | 19:05 WIB
dr Habibie Arifianto SpJP (K) MKes. (SMSolo/dok)
dr Habibie Arifianto SpJP (K) MKes. (SMSolo/dok)

SOLO Suaramerdeka-solo.com – Orang-orang yang hobi berolahraga harus mawas terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Apabila memiliki risiko penyakit jantung atau serangan jantung, disarankan menghindari olahraga yang bersifat kompetitif.

Hal itu dikemukakan Dokter spesialis jantung Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr Habibie Arifianto SpJP (K) MKes.

"Pasien harus tahu kapan harus berhenti apabila mulai dirasakan dada tidak nyaman. Durasi olahraga yang aman bagi pasien jantung dan berisiko mengalami serangan jantung, harus ditentukan berdasarkan uji latih jantung yang dilakukan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah," kata Habibie.

Baca Juga: Pastikan Ada Tidak Varian Baru, Sragen Kirim Sampel ke UGM

Habibie mengemukakan hal itu menyusul adanya dua kejadian di dunia olahraga dimana kedua atlet mengalami yang istilah awam disebut sebagai serangan jantung.
Keduanya yakni Christian Eriksen (Tim Nasional Sepakbola Denmark) yang mengalami kolaps akibat cardiac arrest atau henti jantung dalam pertandingan Denmark vs Finlandia di Stadion Parken, Copenhagen, Denmark, belum lama ini.

Tak berselang lama kemudian, masyarakat Indonesia langsung dikejutkan dengan kabar duka meninggalnya mantan pebulutangkis nasional, Markis Kido, karena serangan jantung pada Senin (14/6/2021).

Habibie mengatakan, ancaman kesehatan terhadap jantung punya cakupan yang luas. Jika dilihat dari cakupan penyakit jantung, dapat ditemukan kasus penyakit jantung koroner, penyakit jantung katup, penyakit gagal jantung, sampai gangguan irama.

Baca Juga: Varian Delta Pengaruhi Respon Imun, Ini Penjelasan UGM

Adapun serangan jantung adalah episode kurangnya oksigen dalam otot jantung yang diakibatkan karena tersumbatnya pembuluh darah koroner secara tiba-tiba. Dalam hal ini, pasien akan merasakan nyeri dada hebat, ampeg, dan panas yang mendadak.

Terminologi henti jantung mendadak, yaitu keadaan jantung secara tiba-tiba berhenti melakukan fungsi pompa sehingga darah tidak dapat tersirkulasi. "Henti jantung mendadak inilah yang sering menyebabkan kematian mendadak,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

X