Kenduri Udan Dawet di Desa Banyuanyar Boyolali, Tradisi Apa Itu?

- Jumat, 14 Oktober 2022 | 15:31 WIB
Peserta kirab membawa gunungan dawet dan hasil bumi menuju Sendang Manderejo, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali.  (SMSolo/Joko Murdowo)
Peserta kirab membawa gunungan dawet dan hasil bumi menuju Sendang Manderejo, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com - Tradisi kenduri udan dawet di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Jumat (14/10) berlangsung meriah. Tradisi itu sudah turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Kenduri ini dimulai dengan kirab gunungan. Yakni gunungan tumpeng rasulan, tenongan jajanan pasar, gunungan hasil bumi setinggi 1,8 meter, gunungan dawet setinggi 1,8 meter.

Kemudian diikuti kirab tenongan bulat oleh para warga. Ada juga yang membawa tampah berisi ingkung ayam jawa, lengkap dengan nasi dan makanan. Tiap keluarga membawa satu tenongan ingkung ayam jawa.

Baca Juga: Meriahnya Tradisi Lampetan di Umbul Tlatar Desa Kebonbimo, Boyolali

Kirab berawal dari Masjid An-Nur Dukuh Bunder Desa Banyuanyar dibawa ke Sendang Mande Rejo sejauh 250 meter.

Ratusan warga mengikuti kirab dengan memakai pakaian adat. Ibu-ibu membawa senik atau ambengan sesaji yang digendong dengan kain batik.

Sesampai di sendang, warga duduk bersama di dekat mata air. Kemudian dilanjutkan doa bersama, dipimpin tokoh masyarakat setempat.

Baca Juga: 379 Personel Gabungan Dikerahkan untuk Amankan Tradisi Yaqowiyu di Klaten

Baru berlanjut dengan tradisi udan buyut. Yakni menyiramkan minuman dawet ke dalam Sendang Manderejo yang dilakukan tiga sesepuh dari tiga dukuh setempat.

Setelah itu, warga berebut dawet yang terdapat di gunungan. Acara diakhiri dengan makan bersama. Seluruh nasi dan lauk pauk, berupa ingkung ayam jawa, kerupuk dan sambal goreng serta minuman dawet dibagikan merata ke seluruh warga.

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X