Februari hingga Awal Maret Diprediksi Puncak Omicron di Indonesia

- Senin, 17 Januari 2022 | 09:55 WIB
Ilustrasi virus Corona varian Omicron. Jurus terakhir pemerintah  dalam menghadapi lonjakan varian Omicron di Indoensia akan  memperketat mobilitas masyarakat.  /Pixabay/Alexandra_Koch
Ilustrasi virus Corona varian Omicron. Jurus terakhir pemerintah dalam menghadapi lonjakan varian Omicron di Indoensia akan memperketat mobilitas masyarakat. /Pixabay/Alexandra_Koch

JAKARTA, suaramerdeka-solo.com - Pemerintah memprediksi puncak penyebaran Omicron di Indonesia terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret.

Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin usai Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Evaluasi PPKM yang dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Minggu 16 Januari 2022.

Menurut Menkes, berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah negara puncak tersebut dicapai secara cepat dan tinggi dan waktunya berkisar antara 35-65 hari.

Baca Juga: Ratusan Pelanggaran Lalu Lintas Tertangkap Kamera ETLE di Sukoharjo. Dalam Kurun Waktu 15 Hari

“Indonesia pertama kali kita teridentifikasi (varian Omicron) adalah pertengahan Desember, tapi kasus kita mulai naiknya di awal Januari. Nah, antara 35-65 hari akan terjadi kenaikan yang cukup cepat dan tinggi. Itu yang memang harus dipersiapkan oleh masyarakat,” ujar Budi sebagaimana dilansir dari laman resmi Setkab RI.

Menkes mengungkapkan, tingkat perawatan di rumah sakit (RS) untuk pasien Omicron di sejumlah negara yang telah melewati puncak kasus berkisar antara 30-40 persen dibandingkan hospitalisasi varian Delta.

Baca Juga: Antisipasi Berbagai Hal, Sipir Dilarang Bawa Ponsel ke Sel Tahanan

“Jadi walaupun kenaikannya lebih cepat dan tinggi, jumlah kasusnya akan lebih banyak dan naik penularannya lebih cepat, tapi hospitalisasinya lebih rendah,” ujarnya.

Oleh karena itu, Budi menekankan agar masyarakat tetap waspada namun tidak perlu panik jika ada kenaikan jumlah kasus yang cepat dan banyak.
Ditegaskannya, pemerintah terus memantau secara ketat kondisi pasien konfirmasi Omicron yang memerlukan perawatan RS. Dari sekitar 500 kasus Omicron, 300 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh.

"(Pasien) yang butuh oksigen hanya tiga (orang) dan itu pun masuk kategori ringan. Jadi tidak perlu sampai ventilator, masih oksigen biasa yang dipasang di mulut, tidak dimasukkan ke dalam. Dan dari tiga orang yang diberikan oksigen, dua di antaranya sudah sembuh dan sudah pulang,” paparnya.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terkait Pilpres 2024, Projo Tunggu Titah Jokowi

Jumat, 20 Mei 2022 | 18:10 WIB
X