Ini kata Sejarawan tentang Penggunaan Nama Nusantara untuk Ibukota Negara

- Selasa, 18 Januari 2022 | 17:50 WIB
Tundjung W Sutirta (SMSolo/Evie Kusnindya)
Tundjung W Sutirta (SMSolo/Evie Kusnindya)

SOLO, suaramerdeka-solo.com - Istilah Nusantara yang diusulkan Presiden Joko Widodo untuk nama ibukota baru Indonesia, dinilai sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tundjung W Sutirta, sebagai hal yang dilematis.

Menurutnya, nama Nusantara sudah dikenal sejak abad ke-14.

Jika diinterpretasikan dengan pendekatan spirit yang diucapkan Gajah Mada, istilah itu sebenarnya adalah nama daerah untuk dikalahkan.

Baca Juga: Nusantara Nama Ibu Kota Negara Baru, Netizen Terbelah. Fadli Zon: Nama Ibu Kota Langsung Saja Jokowi

Sebagaimana diucapkan dalam sumpah Palapa Gajah Mada yang aslinya berbunyi “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa”.

"Kalimat itu artinya, secara tersirat kata
Nusantara itu digunakan Gajah Mada untuk memberikan nama pada daerah-daerah di luar Jawa yang akan dikalahkan," kata pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS itu.

Dia menambahkan, karena Gajah Mada  (Majapahit) belum mengalahkan daerah yang disebut Nusantara, maka ia belum berhenti puasa.

Baca Juga: Presiden Jokowi Pilih Nusantara sebagai Nama Ibu Kota Negara

Maka, lanjut Tundjung, penggunaan istilah Nusantara untuk ibukota negara, sebenarnya dilematis.

Karena, maknawinya adalah daerah atau wilayah yang “dikalahkan”.

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X