Kelangkaan Pupuk Kimia Bersubsidi, Hikmah Mengembalikan Kompos pada Peran Utamanya

Heru Susilo
- Kamis, 20 Januari 2022 | 11:32 WIB
Vita Ratri Cahyani, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS).
Vita Ratri Cahyani, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS).

Oleh: Vita Ratri Cahyani

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS)

KOMPOS dalam dunia pertanian merupakan istilah yang sudah sangat melekat. Masyarakat awam memahami bahwa “kompos” merupakan pupuk yang berupa bahan organik berwarna gelap kehitaman yang remah dengan bau menyerupai bau khas tanah, yang memberikan manfaat nyata untuk tanaman.

Pemahaman tersebut tidak salah, tetapi faktanya tidak sesederhana itu. Permasalahan penggunaan kompos yang sering terjadi, berbagai keluhan muncul dari komunitas petani dan praktisi pertanian lainnya.

Hal itu mulai dari wujud kompos, hingga produk berlabel kompos setelah dibuka isinya “hamburan ladu”. Dilihat dari bentuk awal yang seperti itu dapat dipahami bahwa itu bukanlah produk kompos yang seharusnya.

Hanya label bernama kompos, sehingga jelas tidak layak diaplikasikan. Keluhan yang lain terkait efek dari kompos yang telah diaplikasikan, bukan pertumbuhan tanaman yang semakin segar bernasnya tetapi malah tanaman menjadi layu mengering bak terbakar.

Fakta lain yang menyebabkan petani merasa “berat” menjadikan “kompos” sebagai sumber asupan (sumber pasokan) utama untuk lahannya adalah faktor ketersediaan, aplikasi dan biayanya.

Ketersediaan produk kompos di pasaran sangat terbatas, yang tidak siap tersedia jika sewaktu-waktu dari berbagai komunitas petani banyak yang membutuhkan secara serempak. Dosis penggunaan pupuk organik per ha biasanya jauh lebih tinggi dari pada dosis pupuk kimia.

Aplikasi kompos dengan dosis yang besar tersebut berkonsekuensi membutuhkan tenaga yang lebih banyak untuk menyebar dan mencampur di petak lahan dan jelas berimbas memerlukan biaya yang tinggi.

Berbagai fenomena tersebut berkontribusi menyebabkan kompos belum menjadi asupan utama di mayoritas lahan-lahan pertanian di Indonesia.
Di sisi lain, diakui adanya perluasan lahan pertanian organik di Indonesia yang sudah menjadikan kompos sebagai asupan pokok.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wahyu Cakraningrat dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah

Kamis, 10 November 2022 | 11:18 WIB

Platform Merdeka Mengajar

Rabu, 2 November 2022 | 16:34 WIB

LaDaRa Indonesia

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:44 WIB

Menebarkan Pustaka Maya

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:36 WIB

NU, PKS dan Kitab Kuning

Rabu, 8 Juni 2022 | 11:25 WIB

Assesmen Nasional Pendidikan

Kamis, 28 April 2022 | 10:27 WIB

Membangun 'Kemesraan' NU-PKS

Senin, 11 April 2022 | 15:05 WIB

Akselerasi Transformasi Digital Pendidikan

Jumat, 8 April 2022 | 16:50 WIB

Menyambut SPBE Kemendikbudristek

Sabtu, 12 Maret 2022 | 20:21 WIB

Menanti Wamendikbud Ristek

Kamis, 17 Februari 2022 | 14:01 WIB

Kode Etik Pengembang Teknologi Pembelajaran

Rabu, 12 Januari 2022 | 12:06 WIB

Guru Publik

Kamis, 25 November 2021 | 15:01 WIB
X