NU, PKS dan Kitab Kuning

- Rabu, 8 Juni 2022 | 11:25 WIB
. (SMSolo/dok)
. (SMSolo/dok)

Kitab Kuning memiliki gaya dan latar belakang pembahasan yang beragam karena konten pengetahuannya pun juga beragam. Sangat wajar bila NU dengan Batsul Masa'ilnya masih sangat dominan menggunakan Kitab Kuning sebagai rujukan untuk melengkapi dasar hukum dari Al Quran dan Sunnah.

Wajar pula saat para santri juga menjaga kesakralan Kitab Kuning seperti halnya menjaga Al Quran dan Kitab Hadits Nabi. Keeratan antara NU dan Pesantren mendasari bahwa secara historis NU itu lahir dari dalam pesantren, di mana pesantren selalu syarat dengan Kitab Kuning.

PKS dalam memperjuangkan umat Islam sudah sangat jelas. Sejak PKS memiliki wakil rakyat di gedung parlemen, Fraksi PKS adalah fraksi pertama yang membawa lomba baca Kitab Kuning ke DPR RI.

Baca Juga: Assesmen Nasional Pendidikan

Kitab Kuning dikenal dengan istilah "kitab gundul" yaitu kitab yang bertuliskan bahasa Arab tanpa tanda baca (harakat). PKS mencoba menghidupkan kembali tradisi keilmuan di kalangan para santri dan generasi muda untuk memperdalam kajian kitab kuning dan memahami nilai ajaran Islam dari sumber asli yang disusun oleh para ulama.

Lomba membaca Kitab Kuning adalah salah satu bentuk apresiasi PKS terhadap santri-santri di Indonesia. Kitab Kuning selama ini menjadi kitab rujukan wajib di pesantren-pesantren yang ada di seluruh Indonesia.

Sehingga tiba saatnya untuk tidak meragukan lagi komitmen PKS tentang komitmen keumatan, kerakyatan, dan kebangsaan dari PKS yang selama ini terus konsisten bersama rakyat.

Baca Juga: Akselerasi Transformasi Digital Pendidikan

Selama ini, PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil 'Alamin tentu saja ingin dan senantiasa mengkombinasikan antara kegiatan keagamaan dan kebangsaaan dalam rangka untuk meningkatkan keimanan dan spiritualitas peserta, sehingga bisa memberi kontribusi yang positif bagi bangsa dan negara.

Bagi PKS, kegiatan lomba membaca Kitab Kuning bagus dilakukan dan harus terus dipertahankan untuk meningkatkan keimanan dan spiritualitas diri serta memberikan kontribusi yang positif bagi bangsa dan negara.

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keamanan Digital

Rabu, 11 Januari 2023 | 16:30 WIB

Implementasi Kurikulum Merdeka

Senin, 5 Desember 2022 | 16:27 WIB

Wahyu Cakraningrat dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah

Kamis, 10 November 2022 | 11:18 WIB

Platform Merdeka Mengajar

Rabu, 2 November 2022 | 16:34 WIB

LaDaRa Indonesia

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:44 WIB

Menebarkan Pustaka Maya

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:36 WIB

NU, PKS dan Kitab Kuning

Rabu, 8 Juni 2022 | 11:25 WIB

Assesmen Nasional Pendidikan

Kamis, 28 April 2022 | 10:27 WIB

Membangun 'Kemesraan' NU-PKS

Senin, 11 April 2022 | 15:05 WIB

Akselerasi Transformasi Digital Pendidikan

Jumat, 8 April 2022 | 16:50 WIB

Menyambut SPBE Kemendikbudristek

Sabtu, 12 Maret 2022 | 20:21 WIB

Menanti Wamendikbud Ristek

Kamis, 17 Februari 2022 | 14:01 WIB
X