Keilmuan Prof Dr.dr Zainal Arifin Adnan SpPD KR FINASIM dalam Perspektif Keilmuan Saat Ini

- Rabu, 28 Juli 2021 | 10:27 WIB
Prof Dr dr Zainal Arifin Adnan
Prof Dr dr Zainal Arifin Adnan

(Disampaikan pada orasi penghormatan kolega Penghormatan Profesor)

Oleh: Arief Nurudhin

Prof Dr.dr Zainal Arifin Adnan SpPD KR FINASIM bukan hanya seorang dokter dan profesor namun juga pribadi multitalenta, karena sangat peduli terhadap masalah umat. Banyak amanah yang diembannya selain sebagai seorang dokterdi antaranya ketua MUI Surakarta, ketua Yayasan Al Azhar, dekan FK UNS, dan Kaprodi Ilmu Penyakit Dalam FK UNS.

Keilmuan beliau tentang Reumatologi sudah tidak perlu diragukan lagi. Disertasinya tentang penemuan “Jalur Zainal” yang mengungkapkan adanya mekanisme selain proses degeneratif dalam patogenesis terjadinya osteoarthritis. Penemuannya itu menjelaskan tentang pengaruh faktor jejas biomekanik yang ternyata mampu menimbulkan kematian sel-sel kondrosit sehingga menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi, dan ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit osteoarthritis.

Penemuan ini bertaraf internasional, karena ide-idenya belum pernah terpikirkan karena faktor degeneratif masih memegang kendali utama dalam patogenesis osteoarthritis. Beliau mampu memberikan sebuah terobosan besar, membuka wawasan kita semua bahwa kenapa sekarang banyak terjadi osteoarthritis pada usia muda, jawabannya adalah “Jalur Zainal” yaitu jejas biomekanis yang akan menyebabkan keluarnya ion calsium ke sitoplasma dan ini akan menyebabkan apoptosis pada kondrosit melalui perantara caspase 12.

Ketika beliau mengajar kami, tidak hanya ilmu kedokteran yang diajarkan, tetapi banyak nasehat-nasehat yang sangat bermanfaat ketika menjadi dokter. Ia senantiasa mengajarkan tentang keihklasan sebagai seorang dokter,

Ia selalu mendorong terus belajar. Prof Zainal seorang senior yang memberikan kebebasan sebesar-besarnya untuk yuniornya berkreasi dan berinovasi. Prof Zainal pula yang mendorong dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kami untuk pergi ke Jepang, dan kami berhasil mengadakan kerja sama dengan Keio University dalam pengembangan ilmu Reumatologi.

Salah satu inovasi yang kami lakukan adalah dengan membentuk sebuah komunitas untuk penderita SLE yang selanjutnya berubah menjadi sebuah Yayasan yang kami namai Yayasan TITTARI yang artinya kupu-kupu, di dalam yayasan ini Prof Zainal bersama dengan kami selalu memberikan edukasi-edukasi dan memberikan semangat kepada para penderita agar tidak putus asa dalam menghadapi penyakit autoimun khususnya SLE.

Setiap 3 bulan sekali kami megadakan saresehan bersama dengan penderita SLE, berdiskusi bersama tentang pengobatan mereka, masalah yang mereka hadapi, serta bagaimana pemecahannya. Pasien autoimun seperti SLE seperti ini sangat membutuhkan pendekatan psikis yang baik dalam melengkapi pengobatan mereka. Faktor psikis merupakan salah satu faktor terpenting dalam menunjang kesembuhan dan perbaikan penderita SLE.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

X