Wahyu Cakraningrat dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah

- Kamis, 10 November 2022 | 11:18 WIB
Ali Hufroni, anggota DPRD Kabupaten Boyolali. (SMSolo/dok)
Ali Hufroni, anggota DPRD Kabupaten Boyolali. (SMSolo/dok)

Oleh: Ali Hufroni

BANYAK orang bercerita, kalau kita bicara tentang teologi dalam Muhammadiyah, tak lain kita akan paham dengan etos perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, saat kita membicarakan Muhammadiyah, tentu sangat erat dengan sosok sang pendiri yaitu KH Ahmad Dahlan.

Sebagai sosok penting dan teladan, KH Ahmad Dahlan telah melahirkan berbagai pemikiran yang selama ini mendasari pergerakan dan perjuangan organisasi Islam di Indonesia.

Harus kita akui bersama pula, etos perjuangan yang telah dijalankan Muhammadiyah banyak sekali memberi kontribusi berbagai bidang, misalnya sosial dan politik.

Baca Juga: Presiden Jokowi Dijadwalkan Buka Muktamar Muhammadiyah di Solo

Di bidang sosial, etos perjuangannya diwujudkan melalui pendidikan maupun pelayanan sosial. Muhammadiyah memperjuangkan pendidikan di Indonesia, khususnya dengan mendirikan berbagai sekolah dan universitas.

Organisasi tersebut memiliki andil untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia dalam membawa pencerahan, tidak hanya bagi warganya, tapi juga bagi bangsa dan negara.

Agenda pencerahan itu tidak hanya berupa fisik dan pakaian, tetapi juga melihat hati dan amal perbuatan. Penerapannya dengan memperbaiki hati, meluruskan niat dan menjadikan amal ibadah yang ikhlas.

Baca Juga: Isu Pilpres Bakal Dibahas dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah

Salah satu agenda pencerahan itu diusung dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah yang rencananya digelar di Solo, pada 18-20 November 2022. Agenda itu menjadi momentum bagi bangsa Indonesia lebih baik.

Pertama, penulis sepakat dengan Sekretaris Umum Pimpinan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti yang menegaskan penyelenggaraan Muktamar Ke-48 tersebut sebagai muktamar yang ‘bersih’.

Muktamar yang bersih bermakna menjaga lingkungan dan tidak meninggalkan sampah, apalagi sampah berbahaya.

Kedua, Sekretaris Muhammadiyah itu berharap agar muktamar kali ini bersih dari politik uang (money politics).

Baca Juga: Pengembangan Pembelajaran Berbasis Riset di Perguruan Tinggi

Tatkala politik uang sudah seperti adagium pada pemilihan kepemimpinan, namun Muhammadiyah menolak kemungkinan itu. Organisasi tersebut ingin menjadikan muktamar yang bersih dari money politics.

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Genom dan Presisi Terhadap Penyakit

Senin, 6 Februari 2023 | 08:48 WIB

Keamanan Digital

Rabu, 11 Januari 2023 | 16:30 WIB

Implementasi Kurikulum Merdeka

Senin, 5 Desember 2022 | 16:27 WIB

Wahyu Cakraningrat dalam Muktamar Ke-48 Muhammadiyah

Kamis, 10 November 2022 | 11:18 WIB

Platform Merdeka Mengajar

Rabu, 2 November 2022 | 16:34 WIB

LaDaRa Indonesia

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:44 WIB

Menebarkan Pustaka Maya

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:36 WIB

NU, PKS dan Kitab Kuning

Rabu, 8 Juni 2022 | 11:25 WIB

Assesmen Nasional Pendidikan

Kamis, 28 April 2022 | 10:27 WIB

Membangun 'Kemesraan' NU-PKS

Senin, 11 April 2022 | 15:05 WIB

Akselerasi Transformasi Digital Pendidikan

Jumat, 8 April 2022 | 16:50 WIB

Menyambut SPBE Kemendikbudristek

Sabtu, 12 Maret 2022 | 20:21 WIB

Menanti Wamendikbud Ristek

Kamis, 17 Februari 2022 | 14:01 WIB
X