Agung Prasetyo Lulus Tanpa Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor

- Minggu, 19 September 2021 | 14:28 WIB
Agung Prasetyo. (SMSolo/dok)
Agung Prasetyo. (SMSolo/dok)

SOLO, suaramerdemasolo.com - Prestasi istimewa berhasil diraih Agung Prasetyo, mahasiswa Program Studi S3 Ilmu Pendidikan Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Surakarta.

Dosen Universitas PGRI Semarang itu berhasil lulus tanpa harus mengikuti Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor.

Keberhasilan Agung yang lulus tanpa harus mengikuti Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor karena artikelnya lolos Jurnal Scopus Quartil-2 (Q-2) yang berjudul “Inclusion School for Early Childhood in The Outdoor Classroom” yang terbit di Hunan University Academic Journal (Natural Sciences Edition), Journal of Hunan University (Natural Sciences).

Baca Juga: Ingat! Pekan Depan, Para Siswa SMP di Wonogiri Mulai Divaksin

Sehingga sesuai dengan Peraturan Rektor UNS dimana mahasiswa memiliki artikel yang mampu menembus Jurnal Scopus Q-2, maka tidak perlu harus mengikuti Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor.

Dalam perjuangan menempuh program studi S3 Ilmu Pendidikan UNS, Agung menulis Desertasi dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran FUN & PLAY Untuk Meningkatkan Social Skill Anak Autis”.

Disertasi yang dikerjakan Agung Prasetyo dibawah bimbingan Promotor Prof Dr Sunardi MSc sebagai Promotor, Prof Dr Nunuk Suryani, MPd sebagai Co-Promotor 1 dan Prof Dr Asrowi MPd sebagai Co-Promotor 2 serta Prof Drs Gunarhadi MA PhD sebagai Kepala Program Studi S3 Ilmu Pendidikan FKIP UNS.

Baca Juga: Memburu Minimal Dua Medali Emas di PON XX Papua, Ini Dia Daftar Atlet Tim Anggar Jateng

Menurut Agung, penelitian disertasi yang dilakukan selama ini merupakan penelitian dan pengembangan untuk bisa menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk. (Borg & Gall, 2003:569).

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan, yakni yang pertama untuk mendeskripsikan proses pembelajaran untuk anak autis yang sudah dilakukan selama ini. Adapun tujuan kedua untuk mengembangkan model pembelajaran Fun and Play yang layak dalam meningkatkan kemampuan sosial anak autis.

"Tujuan penelitian yang ketiga untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran Fun and Play dalam meningkatkan kemampuan sosial (social skill) anak autis,” terang Dosen Universitas PGRI Semarang ini.

Baca Juga: Cakupan Vaksinasi Baru 39 Persen, Klaten Masih Tertahan di PPKM Level 3

Dikemukakan Agung, kunci menuju pendidikan yang baik adalah keterlibatan orang dewasa, yaitu orang-tua dan guru yang penuh perhatian. Jika orang-tua terlibat langsung dalam pendidikan anak di sekolah, maka prestasi anak tersebut akan meningkat.

Pelaksanaan pendidikan harus memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan anak didik untuk belajar. Hal ini tidak hanya berlaku untuk anak-anak pada umumnya, tetapi tidak terkecuali berlaku juga pada Anak dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau yang sering disebut sebagai anak Autis.

Anak dengan gangguan spectrum autis merupakan anak yang memiliki hambatan dalam ketrampilan sosial, perkembangan bahasa dalam komunikasi, sehingga mengganggu interaksi sosial dan sering disebut sebagai Pervasive Development Disorder.

Baca Juga: Enam Mahasiswa Unisri Surakarta Perkuat Kontingen Jateng pada PON XX Papua

Hambatan ini mempengaruhi anak dalam proses perolehan informasi sebagai hasil belajar. Hambatan anak autis harus diminimalisasi agar potensi anak dapat berkembang secara optimal.

Sesungguhnya model pembelajaran Fun and Play juga dapat meningkatkan keterampilan sosial anak autis. Mengingat dari hasil pengamatan dan wawancara baik dengan guru maupun orang tua sudah terbukti secara empirik maupun teoritik dapat meningkatkan kemampuan sosial anak autis.

Baca Juga: Pemkab Sukoharjo-Baznas Luncurkan Bantuan Jogo Kiai

Karena dalam proses pengembangannya sudah melaui tahapan berbagai pengujian. Pengembangan model pembelajaran Fun and Play ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada orang tua, masyarakat dan guru tentang pembelajaran yang efektif untuk anak autis.

"Model tersebut diharapkan bisa disebarluaskan untuk kepentingan pembelajaran anak autis yang lebih efektif dan efisien, sehingga guru/sekolah tidak terkesan menghindari menerima siswa penyandang autistik, karena mereka mempunyai hak belajar yang sama seperti anak-anak yang lain," tambah Agung yang secara resmi menyandang gelar baru sebagai Doktor Ilmu Pendidikan tersebut. **

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

Bertambah Lagi, Siswa Positif Covid-19 Jadi 28 Orang

Selasa, 30 November 2021 | 07:19 WIB

Putri Nanda Ika dan Reza Dafa, Duta Kampus Unisri

Senin, 29 November 2021 | 15:45 WIB

UMS Launching Program Health Promoting University

Sabtu, 27 November 2021 | 05:51 WIB

Hari Guru, Ambil Hikmah Pandemi untuk Bangkit Kembali

Kamis, 25 November 2021 | 22:08 WIB

154 Mahasiswa Unisri Terima KIP Kuliah dan BPMKM

Kamis, 25 November 2021 | 16:22 WIB

Sepatu untuk Guru SMP Muliska di Hari Guru Nasional

Kamis, 25 November 2021 | 13:59 WIB
X