Alami Tindak Kekerasan Seksual di Kampus, Jangan Hanya Diam

- Rabu, 29 Juni 2022 | 07:34 WIB
Talkshow dengan tema “Edukasi Penguatan Peran Mahasiswa Pada Pencegahan dan Penanganan Tindak Kekerasan Seksual di Lingkungan Unisri Surakarta" yang digelar secara daring. (SMSolo/dok)
Talkshow dengan tema “Edukasi Penguatan Peran Mahasiswa Pada Pencegahan dan Penanganan Tindak Kekerasan Seksual di Lingkungan Unisri Surakarta" yang digelar secara daring. (SMSolo/dok)

SOLO, suaramerdeka-solo.com - Adanya tindak kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi, seolah menjadi sisi gelap yang hadir akan tetapi jarang terekspose ke dunia luar.

Menurut dosen Hubungan Internasional Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta Dr Sritami Santi Hatmini, mahasiswi seolah gamang dan terbungkam atas keadaan rentan mereka di tengah tradisi patriarkhi di lingkungan kampus.

Hal itu dia katakan di sela talkshow “Edukasi Penguatan Peran Mahasiswa Pada Pencegahan dan Penanganan Tindak Kekerasan Seksual di Lingkungan Unisri Surakarta" yang digelar di kampus setempat.

Baca Juga: Perempuan Harus Diberdayakan, Pelecehan Seksual Harus Dilawan

Idealnya perguruan tinggi harus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi mahasiswa, dosen maupun tenaga kependidikan.

Ketegasan kampus dalam memberi sanksi juga menjadi mitigasi adanya perilaku bejat oknum dosen atas mahasiswa itu.

Laporan tindak pelecahan seksual terhadap seorang mahasiswa perempuan yang diduga dilakukan dosen saat mahasiswa tersebut melakukan bimbingan tugas akhir di sebuah universitas beberapa waktu lalu, menurut Santi menjadi momentum munculnya laporan serupa.

Baca Juga: Bocah di Polokarto Korban Pelecehan Seksual Bapak Tirinya dapat Pendampingan Psikologis

Talkshow dalam rangkaian agenda pengabdian tahun 2022 dan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sebagai tindakan preventif untuk penguatan peran, sarana edukasi, termasuk sosialisasi pencegahan dan penanganan tindak kekerasan seksual di lingkungan kampus Unisri.

Talkshow secara daring melalui platform Ms Teams yang diikuti 75 mahasiswa dan dipandu Satria Rizaldy MA itu menghadirkan Direktur Yayasan SpekHam Surakarta, Rahayu Purwaningsih.

Baca Juga: Workshop Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi

Lebih lanjut Santi mengatakan, mahasiswa perempuan yang menjadi objek kekerasan seksual di kampus, biasanya merasa gamang tentang bagaimana harus bersikap apabila mereka dihadapkan pada tindak kekerasan seksual.

"Rasa malu dan kurangnya edukasi pencegahan dan penanganan tindak kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi jadi problematika utama yang harus diselesaikan. Jangan hanya diam," ujarnya.**

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X