Guru Penggerak Klaten Belajar Kreativitas di Desapolitan Jomboran

- Senin, 20 September 2021 | 06:40 WIB
Guru Penggerak berdiskusi dengan Prof Suratman dari UGM dan para pelaku usaha Desapolitan Klaten.  (SMSolo/Merawati Sunantri)
Guru Penggerak berdiskusi dengan Prof Suratman dari UGM dan para pelaku usaha Desapolitan Klaten. (SMSolo/Merawati Sunantri)

Baca Juga: Program Merdeka Belajar, 11 Sekolah di Sragen Menjadi Sekolah Penggerak

Budi Wahyono salah satu guru penggerak mengaku, dia membayangkan saat datang ke Café Sawah akan mengikuti kegiatan seperti magang.

Namun begitu bertemu Suratman, dia justru dituntut untuk menggali kreativitas dan berinovasi sendiri, sebagai modal menjadi guru penggerak.

‘’Kami tidak membayangkan kalau justru dituntun untuk menggali kreativitas dan berinovasi. Saya ada usaha di rumah, tapi belum melibatkan anak untuk belajar di dalamnya. Ini jadi PR kami,’’ ujar dia.

Baca Juga: Atasi Kejenuhan, SD Muhammadiyah PK Surakarta Gelar Program Gembira Belajar

Selama ini, kegiatan guru lebih banyak terkuras untuk melaksanakan pembelajaran sesuai kurikulum yang ada. Setelah menjadi guru penggerak, mereka dituntut untuk lebih aktif mengajarkan hal-hal di luar mata pelajaran sekolah.

Suratman menambahkan, MBKM di Desapolitan memadukan konsep Hamemayu Hayuning Bawono milik Ki Hajar Dewantoro, dipadukan dengan konsep 5 ‘Ng’ Sistem Inovasi MBKM Desapolitan untuk Guru Penggerak yang digagas Prof Suratman.

Baca Juga: Efek Pandemi Covid-19: Guru Diharap Manfaatkan Sumber Belajar Digital

‘’Konsep 5 ‘Ng’, yakni Ngerti (To Know), Nglakoni (To Do), Ngroso (To Feel), Ngugemi (To Commit) dan Ngagungke (To Glory). Itu yang harus diterapkan dalam pembelajaran di MBKM. Bagaimana guru mau mengajarkan ke siswa, kalau dia sendiri belum pernah mengalami,’’ kata dia.

MBKM Desapolitan bervisi menjadikan Desapolitan sebagai Pusat MBKM Unggulan Untuk ESD – SDGs School Berkelas Dunia dengan Spirit Panca Brata dan Hamemayu Hayuning Bawono, dengan 3 pilar pendukung yakni Environmental Education, Population And Sustainable Development For Education, dan Education For Sustainable Development (ESD).*

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bangunan Lama Pasar Mangi Pedan Mulai Dibongkar

Selasa, 23 November 2021 | 21:05 WIB

Daftar Tunggu Haji di Kabupaten Klaten Hingga 30 Tahun

Sabtu, 20 November 2021 | 17:29 WIB
X