Guru Penggerak Klaten Belajar Kreativitas di Desapolitan Jomboran

- Senin, 20 September 2021 | 06:40 WIB
Guru Penggerak berdiskusi dengan Prof Suratman dari UGM dan para pelaku usaha Desapolitan Klaten.  (SMSolo/Merawati Sunantri)
Guru Penggerak berdiskusi dengan Prof Suratman dari UGM dan para pelaku usaha Desapolitan Klaten. (SMSolo/Merawati Sunantri)

KLATEN, suaramerdeka-solo.com – Enam guru penggerak di Klaten belajar menggali kreativitas dan inovasi di Village Innovation Centre (VIR) Desapolitan Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah, Sabtu (18/9/2021).

Mereka berdialog dengan guru besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Suratman.

Hadir pula Kades Jomboran Agung Widodo, Direktur BUMDes Jimbung Sri Winata, Manajer Café Sawah Jomboran Arif Rahman, Ketua BUMDes Jomboran dan beberapa praktisi lain.

GuBaca Juga: Kawasan Desapolitan Dicanangkan Sebagai Village Innovation Centre Klaten

Pada kesempatan itu, Prof Suratman memperkenalkan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menggali potensi diri dalam mengembangkan dan menularkan ilmunya kepada orang lain, keluarga dan anak didik.

‘’Merdeka belajar itu kemerdekaan dalam berpikir dan berekspresi yang bertujuan memerdekakan guru dan siswa. Seperti semangat Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yakni memerdekakan manusia, dalam hal ini pendidikan,’’ ujar Prof Suratman.

Baca Juga: Beda Jembungan, Lain Pula Nasib Petani Sembungan

Ada enam guru penggerak yang mengikuti kegiatan di Café Sawah Jomboran itu, yakni Amin Dwi Astuti, Ana Fitiya, Anggraeni Yossie Irfonda, Dewi Sulistianingsih, Dwi Kustini dan Budi Wahyono.

Selain mereka, di Klaten ada 120 guru penggerak.

‘’Dalam konsep Desapolitan dan Café Sawah, sawah diartikan sebagai lahan yang digarap dan nantinya akan panen. Tak harus sawah, tapi bisa yang lain yang bisa dikembangkan dan ditularkan pada anak, siswa atau orang lain oleh guru penggerak,’’ ujar Suratman.

Baca Juga: Program Merdeka Belajar, 11 Sekolah di Sragen Menjadi Sekolah Penggerak

Budi Wahyono salah satu guru penggerak mengaku, dia membayangkan saat datang ke Café Sawah akan mengikuti kegiatan seperti magang.

Namun begitu bertemu Suratman, dia justru dituntut untuk menggali kreativitas dan berinovasi sendiri, sebagai modal menjadi guru penggerak.

‘’Kami tidak membayangkan kalau justru dituntun untuk menggali kreativitas dan berinovasi. Saya ada usaha di rumah, tapi belum melibatkan anak untuk belajar di dalamnya. Ini jadi PR kami,’’ ujar dia.

Baca Juga: Atasi Kejenuhan, SD Muhammadiyah PK Surakarta Gelar Program Gembira Belajar

Selama ini, kegiatan guru lebih banyak terkuras untuk melaksanakan pembelajaran sesuai kurikulum yang ada. Setelah menjadi guru penggerak, mereka dituntut untuk lebih aktif mengajarkan hal-hal di luar mata pelajaran sekolah.

Suratman menambahkan, MBKM di Desapolitan memadukan konsep Hamemayu Hayuning Bawono milik Ki Hajar Dewantoro, dipadukan dengan konsep 5 ‘Ng’ Sistem Inovasi MBKM Desapolitan untuk Guru Penggerak yang digagas Prof Suratman.

Baca Juga: Efek Pandemi Covid-19: Guru Diharap Manfaatkan Sumber Belajar Digital

‘’Konsep 5 ‘Ng’, yakni Ngerti (To Know), Nglakoni (To Do), Ngroso (To Feel), Ngugemi (To Commit) dan Ngagungke (To Glory). Itu yang harus diterapkan dalam pembelajaran di MBKM. Bagaimana guru mau mengajarkan ke siswa, kalau dia sendiri belum pernah mengalami,’’ kata dia.

MBKM Desapolitan bervisi menjadikan Desapolitan sebagai Pusat MBKM Unggulan Untuk ESD – SDGs School Berkelas Dunia dengan Spirit Panca Brata dan Hamemayu Hayuning Bawono, dengan 3 pilar pendukung yakni Environmental Education, Population And Sustainable Development For Education, dan Education For Sustainable Development (ESD).*

Halaman:
1
2
3

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Purna Tugas, 38 Personel Polres Klaten Diarak Becak

Senin, 17 Januari 2022 | 13:51 WIB
X