Nasib Petani Tembakau Rajangan, Dulu Menanam Hingga 90 Hektar Sekarang hanya 1 Hektar

- Kamis, 23 September 2021 | 20:26 WIB
Petani tembakau mengikuti sarasehan di aula DPKPP Klaten.(SMSolo/Mera S)
Petani tembakau mengikuti sarasehan di aula DPKPP Klaten.(SMSolo/Mera S)

KLATEN, suaramerdeka-solo.com - Nasib petani tembakau rajangan di Kabupaten Klaten sedang kurang baik, karena cuaca yang kurang bersahabat dan harga tak menentu.

Akibatnya, banyak petani yang pilih tidak menanam tembakau lagi, karena takut rugi besar. Beberapa tahun sebelumnya, mereka tidak balik modal akibat cuaca dan harga yang jatuh.

Salah satunya dialami Wagino Suwondo, petani tembakau rajangan asal Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Klaten. Dulu, lahan garapannya sangat luas, namun kini tinggal 1 hektar saja.

Baca Juga: Antisipasi Klaster Baru di Solo Selama PTM, Pemkot Surakarta Andalkan Tes Acak Covid-19

"Dulu saya menanam sampai 90 hektar, tapi tahun ini hanya 1 hektar lebih sedikit. Bahkan dua tahun lalu, saya tidak tanam tembakau daripada rugi, karena musim dan harganya tidak jelas," kata Wagino Suwondo usai menghadiri sarasehan APTI Klaten di Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Klaten, Kamis (23/9/21).

Dia bahkan minta agar petani tembakau diberikan pelatihan budidaya porang yang sedang naik daun, agar petani tidak menganggur dan tidak bergantung pada tembakau saja. Dia minta DPRD Provinsi survey ke daerah tembakau.

Baca Juga: Pesta, Persika Tundukkan Garuda Jumapolo Setengah Lusin Gol Tanpa Balas

"Saat ini, petani kondisinya kritis, menjelang meninggal. Dulu harga tembakau bisa Rp 100.00 bahkan Rp 200.000/kg, tapi sekarang Rp 50.000-Rp 60.000/kg saja sudah bagus, bagaimana mau balik modal, padahal tembakau butuh modal besar," katanya.

Dia juga berharap agar DBHCHT dialokasikan bagi petani tembakau yang sedang terpuruk dan buruh tani tembakau, bukan untuk kegiatan lain yang tidak dirasakan manfaatnya oleh petani.**

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

X