‘Sigrak Cetingan’ Diluncurkan. Upaya Pemkot Surakarta dan Masyarakat Perangi Stunting di Solo

- Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:02 WIB
Peluncuran Program 'Sigrak Cetingan' untuk memerangi stunting di Taman Cerdas Mojosongo, Kamis (21/10/2021). (SMSolo/dok)
Peluncuran Program 'Sigrak Cetingan' untuk memerangi stunting di Taman Cerdas Mojosongo, Kamis (21/10/2021). (SMSolo/dok)

SOLO, suaramerdeka-solo.com – ‘‘Sigrak Cetingan’’, akronim program Aksi Gerakan Bersama Cegah Stunting melalui Posyandu, diluncurkan Pemkot Surakarta.

Program gerakan bersama melibatkan sejumlah instansi di lingkup Pemkot dan stakeholders itu menjadi gebrakan untuk memerangi kasus stunting di Solo yang tercatat sejumlah 1.059 balita pada 2020.

Prosesnya mulai dari upaya pencegahan dini, hingga penanganan jika ditemukan kasus stunting.

‘’Upaya pencegahan dengan edukasi kepada masyarakat, utamanya remaja putri, ibu hamil, ibu melahirkan dan menyusui, antara lain melalui kader-kader posyandu, PKK, akademisi dan media massa,’’ kata Sabta Endah Yuianti, Kabid Pemberdayaan Masyarakat pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPPAPM) Surakarta, Minggu (24/10/2021).

Baca Juga: Puluhan Siswa di Solo Positif Covid-19, Pemkot Surakarta: Belum Tentu Itu Klaster Sekolah

Posyandu sekaligus menjadi media deteksi dini jika terjadi kasus stunting. Sebab, selama ini posyandu berperan dalam memantau perkembangan balita pada masyarakat setempat.

Jika ditemukan kasus balita stunting, DPPPAPM sebagai pendamping di Posyandu, segera melakukan koordinasi. Misalnya dengan Dinas Kesehatan yang memiliki kepanjangan tangan di puskesmas-puskesmas, atau akademisi ahli gizi.

Program ‘’Sigrak Cetingan’’ diluncurkan Pemkot Surakarta di Taman Cerdas Mojosongo, Jebres, Kamis (21/10/2021).

Baca Juga: Usai Puluhan Siswa SD Positif Covid-19, Kini Belasan Siswa SMP di Solo Dinyatakan Terpapar Korona

Peluncuran antara lain dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surakarta, Selvi Ananda Gibran Rakabuming Raka, serta para pejabat dari sejumlah instansi seperti Bappeda, Dinkes, Disdik, serta Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan.

Pemilihan lokasi atas pertimbangan, Mojosongo merupakan wilayah terbanyak terdapat kasus stunting pada 2020, yakni sejumlah 178 balita dari total 1.059 balita stunting di Kota Solo.

Menurut Sabta, berdasarkan data, angka status stunting di Kota Bengawan jauh lebih rendah yakni 2,77 persen dari persentase nasional (27,67 persen), serta persentase Jawa Tengah (28,5 persen).

Baca Juga: Anda Butuh Bibit Pepaya Thailand dan California? Di Boyolali Ada Penyemainya

Sebelum diluncurkan, penyusunan program ‘’Sigrak Cetingan’’ diawali dengan penandatanganan kesepakatan berbagai pihak serta diskusi untuk menurunkan dan mencegah stunting di Solo, pada 7 Oktober 2021.

Mereka yang bertandatangan di antaranya Wali Kota Gibran Rakabuming Raka, Wakil Wali Kota Teguh Prakosa, Ketua DPRD Budi Prasetyo, Sekda Ahyani, Kepala Bappeda Tulus Widajat, Kepala Dinkes Siti Wahyuningsih, kalangan LSM dan media massa, serta seluruh camat di Solo.*

Halaman:
1
2

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kajari Surakarta Bidik Para Pelaku Kasus Mafia Tanah

Senin, 24 Januari 2022 | 18:21 WIB

Mengintip Wajah Baru dan Geliat Pasar Legi Solo

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:54 WIB

Ini Kesan Para Kolega Putut Gunawan

Minggu, 23 Januari 2022 | 14:12 WIB

Luapan Kali Jenes Rendam Permukiman Warga di Solo

Jumat, 21 Januari 2022 | 22:41 WIB

TNI Rehab 43 RTLH dan Perbaiki 5 MCK Umum di Solo

Jumat, 21 Januari 2022 | 16:07 WIB

Solo Butuh Tambahan Vaksin Booster 70 Ribu Dosis

Jumat, 14 Januari 2022 | 19:52 WIB
X