UNS Ubah Istilah Resimen Mahasiswa Jadi Korps Mahasiswa Siaga, Ini Alasannya

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 20:05 WIB
UNS resmi merubah istilah Resimen Mahasiswa (Menwa) telah diubah menjadi Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa. (SMSolo/dok UNS.ac.id)
UNS resmi merubah istilah Resimen Mahasiswa (Menwa) telah diubah menjadi Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa. (SMSolo/dok UNS.ac.id)

SOLO, suaramerdeka-solo.com - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyayangkan adanya kegiatan kemahasiswaan yang mengedepankan kegiatan fisik yang berlebih dan berujung melayangnya nyawa seorang mahasiswa Sekolah Vokasi UNS saat mengikuti Diklatsar Menwa pada Minggu (24/10/2021).

Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS Dr Sutanto mengemukakan jika istilah Resimen Mahasiswa (Menwa) telah diubah menjadi Korps Mahasiswa Siaga Batalyon 905 Jagal Abilawa sejak beberapa tahun lalu.

Salah satu tujuan diubahnya istilah tersebut, lanjut Sutanto, tak lepas dari keinginan kampus meniadakan kegiatan -kegiatan yang menuntut kegiatan fisik yang sangat tinggi di lingkungan kampus UNS.

Baca Juga: 10 Pohon Mati Di Tepi Jalan PG Gondang-Ngering Jogonalan Dibiarkan, Relawan Buat Surat Terbuka

Namun memang di kampus maupun dalam berbagai informasi kegiatannya, istilah Menwa masih banyak digunakan.

"Memang dalam Korps Mahasiswa Siaga diajarkan mengenai bela negara. Namun bela negara tidak selalu dengan aksi kekerasan dan terpaan latihan fisik yang superkeras," papar Sutanto di sela konferensi pers yang digelar di kampus UNS.

Ia mengemukakan, jika sampai kini masih ada kegiatan kegiatan fisik yang ekstrakeras itu lebih disebabkan bagian dari tradisi yang berlangsung dari tahun ke tahun di unit kegiatan mahasiswa tersebut.

Baca Juga: Jalan Kampung Ditutup Sepihak, 3 KK Di Kampung Teguhan, Sragen Terisolasi

Ia menegaskan jika UNS bukan kampus militer sehingga seharusnya jika ada peserta atau mahasiswa yang fisiknya tidak mampu harus ditoleransi.

Dengan adanya tragedi meninggalnya seorang mahasiswa saat berkegiatan di kampus, Sutanto menyatakan jika pihak kampus merasa marah dan sedih. Sebab kampus bukan tempat untuk melestarikan tradisi latihan fisik dengan kekerasan.

Ia menilai jika terbukti adanya kekerasan maka kegiatan semacam itu disebutnya tidak layak.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemerintah Perlu Disiplinkan Masyarakat Patuhi Prokes

Kamis, 9 Desember 2021 | 05:42 WIB

Sisihkan Uang Belanja, DWP UNS Gelar Jumat Berbagi

Jumat, 26 November 2021 | 22:05 WIB
X