Wow ....Ditangan Yayasan Pusat Studi Anak Bocah Pintar, Minyak Jelantah Diolah Menjadi Sabun Cuci Piring

- Selasa, 2 November 2021 | 05:35 WIB
Chusna Cahya menunjukkan Samila Green, sabun cuci piring dari daur ulang dari minyak jelantah, hasil riset tim dari Yayasan Pusat Studi Anak Bocah Pintar, Karanganyar. (SMSolo/Irfan Salafudin)
Chusna Cahya menunjukkan Samila Green, sabun cuci piring dari daur ulang dari minyak jelantah, hasil riset tim dari Yayasan Pusat Studi Anak Bocah Pintar, Karanganyar. (SMSolo/Irfan Salafudin)

KARANGANYAR, suaramerdeka-solo.com - Minyak sisa penggorengan atau jelantah memang bukan termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3). Namun, jika salah penanganan bisa merusak lingkungan.

Karenanya, Yayasan Pusat Studi Anak Bocah Pintar (PSA BP) berupaya mengolah jelantah menjadi sabun cuci piring.

Diberi label "Samila Green", produk ramah lingkungan itu diluncurkan perdana di Rumah Belajar PSA BP di Desa Jati, Kecamatan Jaten, Minggu (31/10). Nama Samila sendiri diambil dari singkatan Sabun Minyak Jelantah.

Baca Juga: Aturan PPKM Direvisi, Balita Kembali Dilarang Kunjungi Tempat Publik di Solo

"Lemak dalam jelantah bisa mengeras, sehingga menutup saluran. Akibatnya. aliran air macet. Jika dibuang ke tanah, akan menutup pori-pori tanah. Jika masuk ke sungai, akan menutupi masuknya sinar matahari yang dibutuhkan ekosistem air," terang Tim Riset PSA BP Chusna Cahya.

Karenanya, tim berusaha mengolah jelantah menjadi sabun cuci piring yang banyak digunakan dalam rumah tangga. Ke depan, tim akan memberikan pelatihan ke sejumlah komunitas agar volume produksi naik dan bisa dipasarkan lebih luas.

"Memang butuh waktu untuk menjernihkan jelantah agar bisa digunakan sebagai sabun cair cuci piring. Kalau kondisi jelantah sudah keruh, pekat, waktu penjernihan jadi lebih lama. Pada riset kemarin, kami butuh empat hari untuk menyelesaikan Samila Green," ungkapnya.

Baca Juga: Program Bantuan Mahasiswa Berprestasi Wonogiri Diadakan Lagi

Ketua Yayasan PSA BP Rahadi berharap, Samila Green tak hanya membantu mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga bisa punya nilai ekonomi lebih. "Semoga ini bisa dikembangkan dengan konsep ekonomi sirkular," katanya.

Sementara Koordinator Jelantah For Change (J4C) untuk Solo Raya Ratih Kusuma mengatakan, pihaknya terus mengedukasi warga agar bersedia menampung jelantah rumah tangga.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

103 Keluarga Korban Bencana Alam Terima Santunan

Kamis, 6 Januari 2022 | 17:10 WIB
X