PCNU Gelar Seminar Nasional dan Bedah Buku 'Gerakan Komunisme Islam di Surakarta 1914-1942'

- Selasa, 16 November 2021 | 14:25 WIB
PCNU Klaten menggelar Seminar Nasional dan Bedah Buku, Selasa (16/11/21). (SMSolo/Mera S)
PCNU Klaten menggelar Seminar Nasional dan Bedah Buku, Selasa (16/11/21). (SMSolo/Mera S)

KLATEN, suaramerdeka-solo.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) melalui Lakpesdam NU Klaten menggelar Seminar Nasional Membumikan Islam Bergerak dan Bedah Buku di aula PCNU Klaten, Selasa (16/11/21).

Pada acara yang dibuka Wakil Ketua PCNU Klaten H Mujab itu, juga dibedah buku ‘’Gerakan Komunisme Islam Di Surakarta 1914-1942 (Studi Pemikiran H, Misbah)’’ karya Prof. Dr. H Syamsul Bakri M.Ag.

Selain Prof Syamsul, hadir sebagai narasumber Peneliti Lembaga Kajian Transformasi Sosial (LKTS) Boyolali, Ismail Al Habib.

Baca Juga: Jalan Desa Taring, Cepogo Tertutup Longsor. Hujan Deras Picu Longsor di Kawasan Lereng Merapi

Tampak hadir Kepala Kemenag Klaten H Anif Solikhin, pengurus PCNU, warga Nahdliyin, akademisi, MUI, perwakilan organisasi termasuk dari Muhammadiyah.

"Kami ingin membaca secara utuh histori, titik temu antara komunisme dan Islam. Sebelum 1945, spirit komunisme untuk melawan kolonial, mengkaji pemikiran H Misbah dari sisi akademis," kata Ketua Panitia yang juga Ketua Lakpesdam NU, Muhammad Nuryadi Edi Purnama.

Prof Syamsul mengatakan, Gerakan komunisme 1914-1948 didominasi para ulama yang berpihak pada kaum cilik. Mereka menggunakan doktrin-doktrin komunisme untuk melakukan perlawan pada kapitalis atau penjajah, sebagai aktualisasi dari keIslaman.

Baca Juga: Tertimpa Talut Ambrol, Kodim Karanganyar Terjunkan Puluhan Personel Cari Keberadaan Sastro Setu

"Saat itu, umat Islam yang lain moderat, mereka menemukan gerakan radikal di Gerakan Marx, namun itu tidak mengurangi keIslaman ulama. Stigma negatif melekat pada komunisme tahun 1948-1965, yang sekuler dan atheis," kata Prof Syamsul.

Komunisme di awal abad 20 didominasi para ulama, baik di Banten, Semarang, Tegal, Solo dan Sumatera, mereka radikal terhadap kolonial. Saat itu, Muhammadiyah dan Syarikat Islam dianggap lembek.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Purna Tugas, 38 Personel Polres Klaten Diarak Becak

Senin, 17 Januari 2022 | 13:51 WIB
X