Kristianto Yenoni: Jangan Biarkan Pemangku Kepentingan Politik Membuat Pertumpahan Darah di Tanah Papua

- Selasa, 1 Juni 2021 | 12:16 WIB
Kristianto Yenoni. SMSolo/dok
Kristianto Yenoni. SMSolo/dok

SOLO, suaramerdeka-solo.com - Tokoh pemuda asal Papua, Kristianto Yenoni angkat bicara setelah munculnya pro-kontra tentang kesukuan.

Menurutnya, tidak ada Bangsa Papua, yang ada adalah Suku Papua. Papua merupakan Bangsa Indonesia. Demikian ditegaskan Kristianto Yenoni menyusul adanya persepsi yang salah bahwa Papua adalah Suku Melanesia.

Tokoh pemuda terpelajar Papua itu mengatakan bahwa melanesia merupakan julukan, kata lainnya adalah kepulauan hitam. Kata kepulauan hitam merujuk kepada penduduk kepulauan tertentu yang berkulit hitam. Jadi julukan Melanesia tidak semata- mata tertuju kepada pulau Papua.

Baca Juga: Pemuda Pancasila Sukoharjo : Ideologi Pancasila Sudah Final

Dalam kajian mengenai Melanesia di belahan dunia, Kristianto Yenoni menjelaskan ada Afrika Melanesia, Amerika latin Melanesia, Penduduk Asli Australia Melanesia, India Kuno Melanesia Indonesia, juga ada Melanesia Ras nya Melanesia Bangsanya Indonesia. Jadi jelas Melanesia bukan Bangsa Papua, tetapi ras dan bangsanya jelas Bangsa Indonesia.

"Jangan salahkan saya bicara Papua sedangkan orang Australia seperti Veronica Koman boleh bicara tentang Papua, sedangkan saya asli orang Indonesia berkulit hitam tidak boleh bicara tentang Papua," tegas Kristianto Yenoni dalam pernyataannya yang dilansir dari beberapa sumber.

Ditambahkan Yenoni, perlu disadari bersama upaya suatu wilayah ingin lepas dari Negara Induk adalah upaya politik yang diperjuangkan oleh orang yang memangku kepentingan poltik tanpa memikirkan dampak negatifnya.

"Yang mereka pikirkan hanya bagaimana ambisi politiknya tercapai. Tidak pernah dalam sejarah dimana suatu wilayah yang berupaya melepaskan diri dari Negeri Induknya luput dari pertumpahan darah. Ini yang kita sama sama tidak mau," jelasnya.

Para provokator dan yang memiliki kepentingan politik, lanjutnya, hanya bisa menghasut dan memprovokasi, ketika masyarakat bangkit, memberontak terjadi tragedi pertumpahan darah. Para provokator hanya bisa ongkang kaki, yang mereka lihat hanya kepentingan mereka demi sebuah posisi dan jabatan politik dan bisa dengan bangga mengunakan jas dan berdasi.

"Pernahkah kalian berfikir bagaimana warga yang menjadi korban atas ambisi segelintir orang ini?. Keuntungan politik adalah keuntungan pemangku politik, namun penderitaanya, tragedinya diingat, dirasakan dan dialami warga Papua yang tidak berdosa.

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

Mahasiswa UNS Meninggal Usai Mengikuti Diklat Menwa

Senin, 25 Oktober 2021 | 11:35 WIB
X