Haji Ditunda Lagi, Tukang Tambal Ban Ini Hanya Bisa Pasrah

- Rabu, 9 Juni 2021 | 11:30 WIB
Ananto Anak Ragil (59), melakukan aktivitasnya sebagai tukan gtambal ban. (SMSolo/Joko Murdowo)
Ananto Anak Ragil (59), melakukan aktivitasnya sebagai tukan gtambal ban. (SMSolo/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com – Penundaan ibadah haji tahun ini semakin memperpanjang deret calon haji Indonesia. Hanya saja, mereka hanya bisa pasrah dan bersabar.

Seperti yang dilakukan Anantono Anak Ragil (59) warga Dukuh Kembangsari, Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Lelaki yang berprofesi sebagai tukang tambal ban ini.

Dia mengaku sudah mendaftar haji pada tahun 2010, dengan biaya pada saat itu masih sebesar Rp 25.500.000 melalui Bank Mandiri Syariah.

Baca Juga: Pemberangkatan Haji Batal, Begini Prosedur Pengambilan Setoran Pelunasan Bipih

"Informasi berangkat dari Kemenag Kabupaten itu enam tahun mundur, jadi 2010 daftar kira-kira tahun 2016 berangkat. Tapi ternyata mundur lagi, mundur lagi, akhirnya saya pasrah. Ternyata 2019 itu baru mendengar kabar akan diberangkatkan tahun 2020,” ujar Anantono.

Diapun merasa tenang dan telah mempersiapkan segala sesuatu termasuk menjalani manasik haji. Ternyata keberangkatan ibadah hajinya harus tertunda lagi akibat adanya pandemi Covid-19. Harapannya untuk berangkat tahun ini kembali terpupus.

Baca Juga: 1.180 Calon Jamaah Haji Asal Sragen Kembali Gagal Berangkat

“Saya hanya menerima dengan qana’ah saja. Pasrahkan kepada Allah saja. Ya mudah-mudahan sekalipun tahun ini dipending lagi, sekalipun umur sudah tidak ada, insyaAllah niatan saya sudah dicatat oleh Allah sebagai haji yang mabrur tanpa ada ritual ibadah haji.”

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Boyolali, Fahrudin menjelaskan, bahwa jumlah calon jamaah haji Kabupaten Boyolali yang tertunda keberangkatannya pada 2021 ini ada 735 orang. Dari jumlah tersebut, ada tiga orang yang batal karena meninggal dunia.

Kemudian ada pelimpahan oleh mahram sebanyak tujuh orang, selanjutnya ada yang mundur karena faktor ekonomi sebanyak dua orang. Sehingga secara keseluruhan, ada 12 orang yang batal berangkat.

"Untuk yang meninggal uangnya diambil, untuk yang pelimpahan diganti oleh mahramnya, kemudian yang faktor ekonomi mundur total ini dia diambil, sudah tidak ada lagi di sistem komputerisasi haji terpadu (siskohat).” *

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

RT di Boyolali Diberdayakan Lewat Program MCD

Kamis, 7 Oktober 2021 | 23:19 WIB
X