Bayat dan Wedi Rawan Kebakaran, Lereng Merapi Rawan Kekeringan

- Kamis, 10 Juni 2021 | 16:03 WIB
Sejumlah pihak menggelar Rakor menghadapi bencana alam di Kabupaten Klaten, Kamis (10/6/2021). (SMSolo/Merawati S)
Sejumlah pihak menggelar Rakor menghadapi bencana alam di Kabupaten Klaten, Kamis (10/6/2021). (SMSolo/Merawati S)

KLATEN, suaramerdeka-solo.com - Kecamatan Bayat dan Wedi merupakan wilayah paling rawan terjadi kebakaran lahan di Kabupaten Klaten. Sedangkan wilayah di lereng Merapi rawan kekeringan.

Hal terungkap dalam rapat koordinasi "Menghadapi Potensi Terjadinya Bencana Alam dan Non Alam pada Musim Kemarau Tahun 2021 di Kabupaten Klaten" yang digelar BPBD Kabupaten Klaten di ruang rapat Gedung B Setda Klaten, Kamis (10/6/2021).

Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG RI Semarang, Iis Widya Harmoko, dalam kesempatan itu mengatakan, Klaten sejak bulan Mei sudah masuk kemarau dan puncak terjadi sekitar bulan Agustus.

Baca Juga: Warga Desa Kamal dan Ngasinan, Bulu Mulai Kesulitan Air Bersih

"Untuk antisipasi bencana yang sering di musim kemarau seperti kekeringan, kekurangan air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan, kami himbau Pemkab Klaten dan OPD terkait untuk bersiap," ujar Iis Widya Harmoko.

Kebakaran hutan dan lahan rawan terjadi saat puncak musim kemarau. Yakni antara Juli-Agustus-September. Untuk wilayah Kecamatan Bayat yang terdapat banyak hutan jati, dinilai paling rawan.

"Belum bisa dipastikan kapan musim kemarau akan berakhir, namun biasanya antara Oktober-November. Sampai saat ini, masih terdapat variasi iklim, kemaraunya hampir sama dengan tahun 2020 tapi tidak sebasah tahun 2020 dan tidak sekering tahun 2019," imbuuhnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi dampak musim kemarau bagi pertanian, BMKG mengimbau agar petani mematuhi pola tanam agar tidak terjadi gagal panen atau puso akibat kekurangan air.

"Saya sarankan patuhi pola tanam agar tidak terjadi kekurangan air." *

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

X