Proyek Tol Yogya-Solo Akibatkan Jalan Desa Rusak Berat, Tanah Urug Diduga dari Tambang Ilegal

- Minggu, 17 Juli 2022 | 15:48 WIB
Warga menghentikan traktornya di lahan urugan proyek tol Solo- Yogya di Desa Guwokajen Kecamatan Sawit, Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo)
Warga menghentikan traktornya di lahan urugan proyek tol Solo- Yogya di Desa Guwokajen Kecamatan Sawit, Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo)

KLATEN, suaramerdeka-solo.com - Proyek pembangunan jalan tol Yogya-Solo memicu persoalan.

Jalan Desa Bayat, Klaten yang dilewati truk bermuatan urug untuk jalan tol menjadi rusak berat. Tak hanya itu, tanah yang dipakai urug jalan tol diduga berasal dari tambang galian C ilegal.

Dugaan tanah urug dari tambang ilegal tersebut dikemukakan Ketua Umum Lembaga Penyelamat Aset dan Anggaran Belanja Negara Republik Indonesia (Lapaan RI), BRM Kusumo Putro.

Baca Juga: Ganti Rugi Tanah Kas Desa Terdampak Proyek Tol Yogya-Solo, Disepakati Senilai Rp 161 Miliar

“Kami menyayangkan rusaknya jalan Desa Bayat yang mencapai sekitar 4 kilometer. Kenapa pemerintah daerah melalui dinas terkait baru bertindak setelah masalah jalan rusak menjadi sorotan media,” kata Kusumo, Minggu (17/7/2022).

Dia menyebut, berdasar investigasi yang dilakukan tim Lapaan RI di lapangan, tanah urug galian C proyek jalan tol itu berasal dari Gunung Gajah dan Desa Kebon.

“Kuat dugaan, aktivitas penambangan di dua lokasi itu tidak mengantongi izin, alias ilegal. Kami akan menerjunkan tim menelusuri ke ESDM Provinsi Jateng. Kalau terbukti ilegal, maka pelakunya harus dijerat pasal pidana pelanggaran Undang-Undang Minerba,” tegasnya.

Baca Juga: Proyek Tol Solo-Yogya, 136 Bidang Tanah Belum Dibebaskan

Kasus dugaan penambangan galian C ilegal di wilayah Klaten ini, lanjut Kusumo yang juga pengacara itu, semakin membuktikan lemahnya pengawasan dari dinas yang terkait.

Dia menambahkan, jika terbukti, penambang ilegal dan pembeli bahan urug yang gunakan jalan tol Yogya-Solo dapat dikenakan pasal pidana dimana pembeli dapat dikenakan pasal 480 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

4.000 Santri Klaten Ikuti Munaqosyah. Apa Itu?

Selasa, 29 November 2022 | 05:25 WIB
X