PCR Terkendala Antrean Waktu dan Tempat, Tracing di Boyolali Kini Gunakan Swab Antigen

- Rabu, 7 Juli 2021 | 08:05 WIB
Seorang warga menjalani tes swab antigen di Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo)  (Joko Murdowo)
Seorang warga menjalani tes swab antigen di Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo) (Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com - Dinkes Boyolali tidak lagi menetapkan swab polymerase chain reaction (PCR) untuk tracing dan skrining.

Penggantian tes tersebut karena kendala antrean waktu dan tempat pemeriksaan laboratorium.

Penggantian tes pemeriksaan tersebut sesuai SK Kepala Dinkes Boyolali nomor 443.4/0152/4.2 tahun 2021, tentang Penggunaan rapid diagnostik test antigen sebagai alat pemeriksaan Covid-19. SK berlaku mulai Juni.

Baca Juga: KKN Pun Daring. Puluhan Mahasiswa UGM Terjun Virtual di Klaten

Menurut Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S Survivalina, Boyolali masuk dalam wilayah kriteria C pada penggunaan swab antigen.

Alat swab antigen sudah diberlakukan penggunaannya sebagai alat pemeriksaan Covid-19.

Penggunaan swab antigen berlaku untuk proses tracing atau pelacakan dan skrining pada klaster penularan Covid-19.

Baca Juga: Tertibkan Pelanggar PPKM Darurat dengan Mobil Damkar, Satpol PP Semarang Panen Kecaman

“Kami sudah memberlakukan swab antigen sebagai sarana pemeriksaan Covid-19. Pasalnya, swab PCR mengalami kendala waktu dan tempat,” ujarnya, Selasa (6/7).

Dijelaskan, swab PCR memakan waktu cukup lama.

Yakni, waktu tunggu pengiriman sampel lebih dari 24 jam.

Sedangkan waktu tunggu hasil pemeriksaan PCR lebih dari 48 jam.

Baca Juga: Tak Tahan Divonis Positif Covid, Seorang Ibu di Klaten Terjun ke Sumur di Depan Suaminya

Sehingga pihaknya memberlakukan swab antigen sebagai alat tes untuk tracing dan skrining.

“Akurasi swab antigen mencapai 92 persen hampir sama dengan swab PCR.”

Disinggung tingginya angka paparan Covid-19 selama beberapa pekan terakhir, menurutnya, bukan karena antrean laboratorium.

Melainkan adanya mutasi virus delta dengan penyebaran yang cepat.

Baca Juga: Pasien Membeludak, IGD RS Brayat Minulya Ditutup

Saat ini sudah ada dua klaster dari Kudus yang diduga membawa virus varian baru.

Hingga kini di Boyolali ada 48 klaster aktif.

Klaster aktif itu didominasi klaster keluarga dengan total kasus aktif 3.303.

Pasien yang menjalani perawatan sebanyak 304 orang sedangkan yang menjalani isolasi mandiri sebanyak 3.003 orang.

Baca Juga: Dibekuk Polisi. Mengaku Bisa Jadikan Karyawan Perumda, Seorang ASN Minta Rp 70 Juta Per Orang

Penambahan kasus hingga pukul 16.00 tanggal 6 Juli 2021 sebanyak 456 kasus.

Boyolali masih berada di zona risiko sedang dengan skor indeks kesehatan masyarakat (IKM) 2,23.

“Lonjakan kasus ini diduga berasal dari varian baru, karena penyebarannya sangat cepat dan masif.”*

Halaman:
1
2
3

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Terkini

Boyolali Mulai Vaksinasi Anak Dosis Kedua

Selasa, 18 Januari 2022 | 04:30 WIB

Tingkatkan Layanan, RSUPA Boyolali Tambah Tiga Gedung

Senin, 17 Januari 2022 | 16:38 WIB
X