Karamba Jauh Melebihi Batas Maksimal, Zona Baru Dinilai Kurang Produktif

- Sabtu, 17 Juli 2021 | 21:01 WIB
 Dandim Letkol Inf Joni Eko Prasetyo dan Yoga Dharmawan dari BBWSBS menjelaskan revitalisasi kepada petani keramba. Zona Keramba Rawa Jombor 5 Persen,Sabtu (17/7/2021). (SMSolo/Merawati S)
Dandim Letkol Inf Joni Eko Prasetyo dan Yoga Dharmawan dari BBWSBS menjelaskan revitalisasi kepada petani keramba. Zona Keramba Rawa Jombor 5 Persen,Sabtu (17/7/2021). (SMSolo/Merawati S)

KLATEN, suaramerdeka-solo.com – Zona keramba di Rawa Jombor melebihi batas maksimal yang sudah ditetapkan sebanyak 5-8 persen. Sebab saat ini sudah mencapai mencapai 46 persen.

Hal itu ditegaskan Komandan Kodim 0723 Klaten dalam "Komunikasi Sosial Penertiban Keramba Revitalisasi Rawa Jombor" di Balaidesa Krakitan, kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (17/7/21).

Acara dihadiri Yoga Dharmawan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Camat Bayat Supardiyono, Iptu Nahrowi dari Polres Klaten, petani keramba dan sejumlah tokoh setempat.

Baca Juga: Tabung Oksigen Seberat 14.175 Ton dari Singapura Tiba di Bandara Adi Soemarmo

"Berdasarkan kajian, sebenarnya zona yang diperbolehkan untuk keramba hanya 3 persen. Tapi Bupati minta zona diperluas sampai 10 persen, akhirnya disepakati jalan tengah maksimal 5 persen. Tapi sekarang yang dipakai 46 persen," kata Dandim Letkol Inf Joni Eko Prasetyo.

Dalam kesempatan itu, petani keramba menilai zona 8 hektar tidak cukup untuk ratusan petani keramba. Saat ini, ada 8 kelompok petani keramba. Namun dua pertiga keramba sudah tidak aktif, alias tidak ada ikannya. Zona yang ditetapkan juga dinilai kurang produktif untuk budidaya.

Baca Juga: Kejadian Miris di Boyolali. Seorang Nenek Tewas Dianiaya di Ladang

"Besok itu, keramba bukan milik perorangan seperti sekarang, yang punya modal bisa punya puluhan keramba. Yang tidak punya hanya bisa melihat saja. Kan kasihan. Nantinya, keramba akan dikelola bersama lewat BUMDes, petani jadi pemodalnya. Kalau dikelola dengan baik saya yakin akan menguntungkan," tegas Dandim.

Penentuan zona 5 persen itu, lanjut Yoga Dharmawan sudah mengakomodir permintaan petani keramba. Karena sebelumnya hanya diperbolehkan 3 persen saja. Soal zonanya, usul petani masih bisa dipertimbangkan.

Baca Juga: Pengendara Motor di Kudus Diteror Lemparan Tinja Manusia. Keterlaluan!

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Terkini

4.000 Santri Klaten Ikuti Munaqosyah. Apa Itu?

Selasa, 29 November 2022 | 05:25 WIB
X