Harga Tembakau Makin 'Apek' Petani Tembakau Lereng Merapi- Merbabu Menjerit

- Jumat, 16 September 2022 | 12:38 WIB
Petani menjemur tembakau rajangan di areal parkir Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali.  (SMSolo/Joko Murdowo)
Petani menjemur tembakau rajangan di areal parkir Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali. (SMSolo/Joko Murdowo)

 

BOYOLALI, suaramerdeka-solo.com - Musim panen tembakau kali ini membuat lesu para petani di kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu. Pasalnya, harga tembakau justru turun drastis.

Bahkan, kenaikan harga cukai justru berdampak negatif bagi petani. Belum lagi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Padahal, petani sering harus turun mencari tempat menjemur tembakau.

“Belum lagi aturan terkait larangan tambahan gula pada tembakau rajangan,” ujar Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Boyolali, Wiyarto, Jumat (16/9).

Baca Juga: Sidik Jari Mengungkap, Mayat Tanpa Busana di Gudang Garam Lasem adalah Margono

Dijelaskan, perusahaan rokok yang menjalin kerjasama dengan petani kini mmebuat larangan tegas. Mulai tahun ini, petani diminta tidak menambahkan gula pada tembakau rajangan yang dijemur.

“Hanya tembakau kering tanpa gula saja yang bisa masuk. Karena kualitasnya dianggap bagus dan masuk spek tinggi. Hal tersebut justru membuat petani semakin dirugikan.”

Baca Juga: Tinggal Besok! Pendaftaran Sertifikat Halal Gratis Tahap 2 Segera Ditutup

Pasalnya, dengan larangan tersebut maka kuantitas tembakau yang dirajang harus ditambah untuk mendapatkan berat yang sama.

Tiga kuintal tembakau rajangan tanpa gula hanya bisa jadi satu keranjang widik tembakau kering. “Padahal, jika diberi semprotan gula bisa menjadi dua keranjang widik.”

Halaman:

Editor: Heru Susilo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Boyolali Godok Perda Kawasan Tanpa Rokok

Selasa, 29 November 2022 | 16:30 WIB

Puluhan Umat Hindu Bali Kunjungi Boyolali, Ini Tujuannya

Minggu, 27 November 2022 | 13:50 WIB
X