Seorang Warga di Wonogiri Terjangkit Anthrax. Ini Langkah yang Dilakukan Pemkab

- Kamis, 12 Januari 2023 | 22:19 WIB
Ilustrasi sapi di Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. (SMSolo/Khalid Yogi)
Ilustrasi sapi di Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. (SMSolo/Khalid Yogi)

WONOGIRI, suaramerdeka-solo.com - Seorang warga yang berdomisili di Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri terjangkit penyakit anthrax, akhir 2022 lalu.

Warga tersebut merupakan penduduk Kabupaten Gunung Kidul yang beraktivitas di Kecamatan Eromoko.

Bupati Wonogiri Joko 'Jekek' Sutopo mengatakan, pihaknya mengetahui informasi tersebut, pekan lalu.

Baca Juga: Daerah-daerah di Klaten Ini Rawan Penularan Anthrax dari Gunung Kidul

"Kami menerima informasi di Minggarharjo (Kecamatan Eromoko) ada yang mengalami bopeng di lengan kiri. Setelah diambil serumnya, ternyata positif anthrax," katanya, Kamis (12/1).

Dengan adanya temuan tersebut, pihaknya segera melakukan koordinasi lintas dinas dengan Kabupaten Gunung Kidul. Pasalnya, aktivitas korban berada dekat dengan perbatasan antarkabupaten Wonogiri dengan Gunung Kidul.

"Kami koordinasi lintas dinas, lintas kabupaten. Selain itu menyamakan persepsi, langkah apa yang akan dilakukan dan kebijakan apa yang dapat diambil," ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Boyolali Pastikan Tak Ada Anthrax

Warga yang terinfeksi anthrax hanya satu orang. Padahal, dia tidak mengonsumsi daging, tidak bersinggungan dengan sapi yang mati, dan tidak ada aktivitas yang menimbulkan penularan. Bahkan dalam keluarganya hanya orang itu yang terjangkit anthrax.

Pemkab Wonogiri masih melakukan investigasi. Adapun hasil investigasi dan rekomendasinya diperkirakan keluar dalam waktu sepekan.

Bupati belum mengambil langkah pembatasan-pembatasan karena dikhawatirkan berdampak pada ekonomi secara luas. Meski demikian, sikap kehati-hatian diterapkan dengan melakukan sosialisasi mengenai bahaya anthrax.

Baca Juga: Pemkab Boyolali Pastikan Tak Ada Anthrax

Perlu diketahui, pada 2020 lalu juga ada kasus ternak sapi yang terinfeksi anthrax. Langkah pencegahan dilakukan dengan memutus penularan, sosialisasi terhadap peternak dan rumah pemotongan hewan.

Spora anthrax terbilang kuat. Maka, ternak yang mati karena anthrax harus dikubur dengan kedalaman tertentu dan di atasnya tidak boleh ada aktivitas apapun selama beberapa tahun.

"Kami sudah melakukan sosialisasi, kalau ada sapi dengan gejala tertentu atau mati mendadak, jangan dijual. Nanti dinas yang akan melakukan langkah-langkah agar semua pihak tidak mengalami kerugian," ujarnya.**

Halaman:

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

35 Murid SD Rumpun Muslim Wisuda Tahfidz Quran

Minggu, 28 Mei 2023 | 19:59 WIB

Babinsa Wonogiri Tunggangi Honda CRF 150 Baru

Senin, 22 Mei 2023 | 21:34 WIB

PAN Wonogiri Yakin Meraih 10 Kursi

Minggu, 14 Mei 2023 | 07:20 WIB
X