Eko Mei, Guru SMKN Jenawi Kembangkan DC Smart Energy untuk Listrik Murah dan Aman

- Minggu, 22 Agustus 2021 | 09:11 WIB
Eko Mei Shodiq, kreator DC Smart Energy, memperlihatkan cara kerja piranti yang dikembangkannya di laboratorium SMKN Jenawi, Karanganyar.  (SMSolo/Irfan Salafudin)
Eko Mei Shodiq, kreator DC Smart Energy, memperlihatkan cara kerja piranti yang dikembangkannya di laboratorium SMKN Jenawi, Karanganyar. (SMSolo/Irfan Salafudin)

KARANGANYAR, suaramerdeka-solo.com - Listrik tenaga surya, saat ini mulai populer digunakan masyarakat.

Dalam pemakaiannya, arus listrik searah (DC) yang dihasilkan dari penyerapan sinar matahari oleh panel surya, dikonversi menjadi arus listrik tidak searah (AC).

Sebab, mayoritas peralatan elektronik yang digunakan sehari-hari menggunakan arus listrik tidak searah.

Baca Juga: SMKN Jenawi Karanganyar Terpilih sebagai Penyelenggara KKSI 2021 Bidang Seni Tari

Padahal, arus listrik DC relatif lebih aman digunakan, pada pemakaian rumah tangga.

Salah satunya, mengurangi risiko tersengat aliran listrik.

Dasar itulah yang digunakan sejumlah guru SMKN Jenawi, Karanganyar, saat mengembangkan prototype DC Smart Energy.

Baca Juga: Wow, FRSD UNS Surakarta Disebut Gudangnya Wirausahawan

Sebuah piranti pemakaian listrik tenaga surya untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa mengkonversi arus DC menjadi AC.

Karya bersama lima guru itu, beberapa waktu lalu menyabet gelar juara kedua dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) 2021 kategori masyarakat, yang digelar Pemkab Karanganyar.

Eko Mei Shodiq, kreator DC Smart Energy menuturkan, kelebihan arus DC dengan voltasi di bawah 50 volt adalah aman.

Baca Juga: Kapolri dan Panglima akan Cek Vaksinasi Para Pekerja Pabrik di Solo

"Dipegang pun tidak nyetrum. Sehingga jika diaplikasikan di rumah tangga, misal anak atau anggota keluarga tidak sengaja memegang piranti elektronik, tidak kesetrum," jelasnya.

Guru Teknik Komputer Jaringan SMKN Jenawi itu mengatakan, cara kerja alat yang dikembangkannya cukup sederhana.

Energi surya yang ditangkap lewat solar cell, disimpan dalam aki, lalu dialirkan ke piranti elektronik yang membutuhkan setelah melalui alat bernama DC step up/step down.

Baca Juga: Perjalanan Lintas Daerah, Dokter Tonang: Herd Immunity Masih Jauh dari Harapan

"Fungsi DC step up/step down ini untuk menyesuaikan kebutuhan arus listrik. Misal alat yang digunakan butuhnya 20 volt, sementara arus dari aki penyimpan keluarnya 12 volt, maka lewat DC step up dinaikkan menjadi 20 volt. Misal butuhnya di bawah 12 volt, ya diturunkan dengan DC step down," tuturnya.

Alat tersebut bisa digunakan untuk menghidupkan perangkat elektronik yang sering digunakan, dengan kebutuhan arus listrik relatif kecil.

Baca Juga: Penanganan Covid-19, Menkes : Perlu Strategi Ofensif Perbanyak Tracing dan Testing

Seperti lampu, charger ponsel, laptop, hingga access point dan jaringan.

Sedangkan perangkat elektronik yang membutuhkan arus listrik besar namun jarang digunakan, seperti rice cooker misalnya, bisa tetap menggunakan arus listrik dari PLN.

"Jadi pemakaian di rumah tangga bisa di-mix. Antara pasokan listrik dari PLN, dengan pasokan dari DC Smart Energy. Instalasinya dibuat terpisah, jika tidak ingin memakai inverter. Tapi jika menginginkan instalasinya jadi satu, maka nanti perlu inverter untuk mengubah arus DC menjadi AC," katanya.

Baca Juga: Sambut Hari Jadi Polwan Ke-73, Polwan Polres Sukoharjo Berbagi

Dia mengaku, masih terus mengembangkan prototype DC Smart Energy agar lebih efisien dan fleksibel pemakaiannya.

"Ada beberapa konsep yang dikembangkan. Yang jelas, jika rumah tangga ingin memakai DC Smart Energy, butuh biaya antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta untuk instalasinya. Mulai dari pengadaan panel surya, aki untuk menyimpan energi listrik dari panel surya, serta perangkat tambahan lainnya," jelasnya.*

 

 

Halaman:
1
2
3

Editor: Setyo Wiyono

Tags

Terkini

X